Baik para pembaca sekalian, mungkin pada penulisan saya sebelumnya saya telah menjelaskan tentang budaya yang telah berakar dari masalah sosial pada akhirnya dari kebiasaan yang kita lakukan maka terbentuklah budaya seperti budaya mencontek, yang saya tulis sebelumnya.
               Nah, para pembaca sekalian sekarang saya akan menjelaskan lebih dari sisi unsur budaya nasional yakni budaya yang telah diakui oleh Indonesia sendiri, akan tetapi saya lebih medetailnya melalui sebuah film atau bisa dibilang merevieuw nya. Film yang saya revieuw pada kali ini yaitu film yang berjudul "Merantau". Saya ingin merevieuw film ini karena film ini menurut saya memiliki unsur budaya. Baik sekarang saya akan menceritakan sinopsis dari film ini terlebih dahulu.
              Kisah ini diawali cerita dalam sebuah keluarga yang berlatar belakang adat Minangkabau. Keluarga tersebut terdiri dari seorang ibu  (Christine Hakim) dan dua orang anak laki-lakinya yang bernama Yayan (Donny Alamsyah) dan Yuda (Iko Uwais).
Menurut kebiasaan adat Minang, apabila anak laki- laki telah dewasa maka ia harus pergi merantau untuk mencari jati diri dan pengalaman hidup.

Dilema ini dihadapi oleh sang ibu  yang tidak ingin melihat anaknya pergi meninggalkan dia tapi disisi lain kebiasaan orang Minang yang harus merantau.

Singkat cerita sang anak yang bernama Yuda  yang menguasai ilmu beladiri Silat Harimau pun akhirnya pergi merantau ke Jakarta, di dalam perjalannanya itu ia  bertemu dengan seseorang yang bernama Erik. Didalam diri Yuda, Erik melihat dirinya dahulu yang begitu bersemangat  untuk merantau ke Jakarta. Tapi ternyata kota Jakarta tak seindah yang dibayangkan, maka iapun menasehati Yuda.

Sesampainya di Jakarta, ia pun menuju alamat yang dicari yaitu sekolah pencak silat. Namun ternyata sungguh diluar dugaan, sekolah tersebut ternyata sudah tidak ada, yang tersisa hanya puing-puing reruntuhannya saja.

Tak terpikirkan oleh Yuda kemana ia hendak pergi, akhirnya diputuskannya untuk bermalam disebuah lahan  yang hendak dibangun.

Ditengah perjuangannya menghadapi kerasnya kota Jakarta, secara tidak sengaja ia berkenalan dengan seorang anak kecil bernama Adit (Yusuf Aulia) yang hendak mencuri dompetnya.

Dari sanalah awal semua perjuangan Yuda dimulai. Adit mempunyai seorang kakak perempuan bernama Astri (Sisca Jessica), yang sering dianiaya oleh ”boss” nya. Merasa tidak terima, Yuda lalu menghajar orang yang menganiaya Astri yaitu Jhoni (Alex Abbad).

Ternyata persoalan tidak selesai sampai disitu. Jhoni menyimpan dendam kepada Astri, kemudian menculik dan menjualnya kepada komplotan penjual gadis- gadis yang dipimpin oleh Ratger (Mads Koudal) dan tangan kanannya yang bernama Luc (Laurent Basor).

Singkat cerita Astri pun tertangkap, Yuda kembali berjuang untuk membebaskan Astri. Tak disangkanya ia harus berhadapan dengan Eric, seorang yang ia kenal diperjalanan menuju Jakarta.

Eric ternyata ditugaskan oleh Ratger untuk menghabisi Yuda. Pertarungan sengit terjadi antara keduanya di dalam sebuah lift dan Erik pun kalah. Ternyata di luar Lift telah menunggu anak Buah Ratger untuk menghabisi Yuda, namun Eric melindungi Yuda sampai akhirnya ia tewas tertembak oleh orang suruhan Ratger tersebut.

Yuda pun akhirnya tahu tempat penyekapan Astri dan gadis- gadis lainnya. Ternyata disana sudah menunggu Ratger, Luc, dan anak buahnya.  Pertarungan yang tidak imbang itu pun terjadi dan dimenangkan oleh Yuda, sehingga Yuda berhasil membebaskan para gadis yang di culik. Namun tanpa diduga ternyata Ratger menusukkan besi kepada Yuda. Hingga akhirnya Yuda tidak dapat bertahan lagi. Sebelum meninggal, ia berpesan kepada Astri agar mengembalikan benda peninggalan ayahnya yang telah dititipkan ibunya kepada Yuda. 


          Bagaimana sudah baca kan sinopsisnya??, kalau lebih jelas silahkan bisa nonton filmnya masing masing saja. Baik dari revieuw saya tadi diatas bahwa dalam film tersebut memiliki unsur budaya yang sudah tidak asing lagi dalam laga film action yakni pencak silat. Jadi kesimpulannya adalah film laga ini memiliki unsur budaya pencak silat.
         Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat dipastikan. Asal mula ilmu bela diri di nusantara ini kemungkinan berkembang dari keterampilan suku-suku asli Indonesia dalam berburu dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, dan tombak, misalnya seperti dalam tradisi suku Nias yang hingga abad ke-20 relatif tidak tersentuh pengaruh luar.Tradisi silat diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut, diajarkan dari guru ke murid, sehingga catatan tertulis mengenai asal mula silat sulit ditemukan. Sejarah silat dikisahkan melalui legenda yang beragam dari satu daerah ke daerah lain. Legenda Minangkabau, silat (bahasa Minangkabau: silek) diciptakan oleh Datuk Suri Diraja dari Pariangan, Tanah Datar di kaki Gunung Marapipada abad ke-11.Kemudian silek dibawa dan dikembangkan oleh para perantau Minang ke seluruh Asia Tenggara. Demikian pula cerita rakyat mengenai asal mula silat aliran Cimande, yang mengisahkan seorang perempuan yang mencontoh gerakan pertarungan antara harimau dan monyet. Setiap daerah umumnya memiliki tokoh persilatan (pendekar) yang dibanggakan, misalnya Si Pitung, Hang Tuah, dan Gajah Mada
Peneliti silat Donald F. Draeger berpendapat bahwa bukti adanya seni bela diri bisa dilihat dari berbagai artefak senjata yang ditemukan dari masa klasik (Hindu-Budha) serta pada pahatan relief-relief yang berisikan sikap-sikap kuda-kuda silat di candi Prambanan dan Borobudur.Dalam bukunya, Draeger menuliskan bahwa senjata dan seni beladiri silat adalah tak terpisahkan, bukan hanya dalam olah tubuh saja, melainkan juga pada hubungan spiritual yang terkait erat dengan kebudayaan Indonesia. Sementara itu Sheikh Shamsuddin (2005) berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu beladiri dari Cina dan India dalam silat. Hal ini karena sejak awal kebudayaan Melayu telah mendapat pengaruh dari kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari India, Cina, dan mancanegara lainnya. Perkembangan silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum penyebar agama pada abad ke-14 di nusantara. Kala itu pencak silat diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau atau pesantren. Silat menjadi bagian dari latihan spiritual. Silat lalu berkembang dari ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah asing.
         Oleh karena itu kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga dengan budaya yang kita miliki dan lebih lagi untuk menjaganya agar tidak diakui oleh bangsa lain karena itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai anak bangsa untuk memajukan terus bangsa Indonesia yang tercinta ini.

0 comments:

Post a Comment

GUNADARMA UNIVERSITY

GUNADARMA UNIVERSITY
Powered by Blogger.

visitors

About Me

Hai. I am Abdul Latief. Jangan pernah menyesal setelah Anda mengungkapkan suatu perasaan. Karena jika demikian, Anda sama saja menyesali kebenaran.

Labels

Popular Posts