Momiji no Symphony

Aku menatap udara, mengabaikan kelebatan-kelebatan dedaunan kering yang melambai pada tangkai pepohonan sebelum menghantam tanah, menutupi batu-batu berbentuk heksagon di bawahnya. Aku menoleh, menilik kehampaan di kiriku. Anganku menggila, menawarkan fantasi bodoh. Aku mulai berangan kehampaan di sampingku memadat, membentuk sesosok figur. Seandainya... andai-andaiku didengar Tuhan, akankah Ia mengabulkanku? Tidak, kurasa.

            Angin musim gugur menamparku, memaksaku menatap kedepan, kearah kehidupan yang buram. Semuanya tampak kelabu, kau tahu?

            Hei, aku ingat. Kala itu ia melompat-lompat senang melihat daun mapple. Merah, kuning. Dibawah guguran dedaunan merah, ia tampak seperti menari. Mereka cerah, serasi dengannya. Bukannya dinding-dinding putih nan kaku atau orang-orang dengan mata sedingin pisau bedah. Mereka yang memenjarakan kebahagiaannya, membatasi warnanya. Aku sempat bertanya pada diriku, sempatkah terlintas di benaknya untuk kabur? Haruskah aku memohon? Atau berlutut di kakinya? Apa saja akan kulakukan. Disini berjuta kali lebih dingin.

            Kelebatan scarf jingga bergaris kuning sesaat memenuhi pandanganku dalam satu detik yang panjang. Aroma jeruk yang familiar perlahan membuatku memutar tungkai. Aku mengendus udara, mencoba mencari jejak aroma yang perlahan menghilang. Samar. Samar. Lalu hilang sepenuhnya.

            Aku tidak tahu apakah fantasi kembali mengombang-ambing batinku, mengacak benakku, merajut tali mimpi dan kenyataan menjadi satu sehingga aku tak bisa membedakannya atau memang yang kini tengah tersenyum lembut di hadapanku adalah figur yang beberapa detik lalu memenuhi otakku? Atau—sekali lagi—hanya ilusi dari Tuhan?

            Perlahan, kedua bibirnya membuka, membentuk sebuah frasa tanpa suara. Ia menunduk, tersenyum kecut pada dedaunan maple lalu kembali menatapku. Kedua bibirnya kembali terbuka, mencoba mengalunkan sesuatu padaku. Gadis itu mengangkat kedua tangan lalu menggerakkan jemarinya, membentuk kalimat imajiner.

            “Hei, Len, mengapa begitu kacau?” kata jarinya padaku.

            Hei, bagaimana kelihatannya senyumku saat ini? Kacau? Atau tetap kawaii seperti yang sering ia katakan?

            “Aku tidak kacau, Rin.” Aku menggenggam tangannya yang menggantung di udara. “Kenapa kau berada disini? Bukankah kau harusnya berada di rumah sakit? Bagaimana kepalamu? Kaki?”

            Rin memiringkan kepalanya sedikit lalu mengerucutkan bibirnya. Ia menggerakkan jemarinya lagi sembari menunjukkan deretan giginya.

            “Aku baik-baik saja.” Gadis bersurai pirang itu melanjutkan kalimatnya. “Asal Len ada disisiku.”

            Mati-matian, aku menahan agar cairan bening di ujung mataku tidak tumpah. Aku tahu—dari matanya yang mulai memerah—ia juga sedang bersusah payah menelan tangis.

            Otakku berputar dan kelebatan potongan memori bermain di dalamnya. Seperti potongan film, mereka menyatu, membentuk satu ingatan yang dimulai dengan rintik hujan.

***

Hari itu hujan dan jarum speedometer merangkak ke angka 100. Mobil meraung, ayah kami meraung gembira dan aku menggenggam jemari Rin dengan erat. Beberapa menit yang lalu ayah dan ibu saling melempar umpatan—sesekali beberapa benda berbahaya ikut melayang. Itu bukan hal yang aneh lagi. Kami sudah terbiasa. Namun, saat itu, ayah berteriak kencang dan menyeret kami keluar dari kamar. Ia melempar kami ke dalam mobil.

            “Jangan takut, Rin.” Aku meremas jemarinya yang dingin. “Aku ada di sisimu.”

            Rin menoleh padaku dengan kening mengkerut lalu kembali mengawasi kelebatan gedung-gedung tua yang berdiri setengah kokoh di sisi jalan.

            “Bagaimana mungkin aku bisa tenang?” bisiknya panik. “Ia mengendarai mobil seperti orang gila!”

            “Aku mendengar itu!” bentak ayah sebelum menginjak pedal gas lebih dalam, membuat kepala kami tersentak kebalakng, tertanam di dalam jok mobil.

            Aku mengawasi wajah Rin yang memucat. Kedua kelopak matanya terbuka lebar dan pupilnya mengecil. Horror membayangi kolam azure disana. Aku memutar kepalaku, menatap truk besar yang melaju ke arah kami. Perlahan mendekat, mendekat, hingga aku bisa melihat seorang pria tua tengah berteriak panik seraya mencoba membanting stirnya ke kiri.

            Dan ketika aku sadar, aku sudah berada di atas trotoar, berbaring pasrah disirami rintik hujan dan sakit yang menderu-deru. Mataku berputar, menatap asing orang-orang yang tengah mengelilingiku dengan tatapan lebih ingin menginterogasi daripada bersimpati. Aku melirik ke kanan, menatap tubuh mobil yang rusak berat dan aspal jalanan yang perlahan berubah merah. Disana, di antara himpitan badan mobil dan serpihan kaca, sejulur tangan seolah ingin menggapaiku. Tak ada yang lain. Tak ada kepala, tubuh, kaki. Hanya ada sepotong tangan pucat.

            Sebelum aku sempat membisikkan apapun, kegelapan menyergapku, mengunciku dalam kepekatannya.

            Sedetik kemudian—aku tak tahu berapa lama namun rasanya seperti kau baru saja tidur lalu dibangunkan—bau obat-obatan dan alkohol menusuk indera penciumanku. Aku menggerakkan kelopak mataku yang terasa berat. Langit-langit putih yang dingin nan kaku menyapaku, tersenyum canggung melihat keadaanku yang mengenaskan. Kepalaku dililit perban dan ditetesi entah cairan apa—tapi baunya sangat menusuk. Kaki dan tanganku juga diperban. Tapi bukan itu masalahnya. Mana Rin?

Seorang pria bercoat putih tanpa disadari mendekatiku. Stetoskop menggantung di lehernya, terlihat dingin, sama seperti mata dan senyumnya yang palsu—aku tahu. Perawakannya tinggi dengan rambut merah muda yang tak lazim. Kacamata berbingkai hitam bertengger di pangkal hidungnya, terlihat kontras dengan kulitnya yang sepucat pualam—sehingga ia lebih terlihat seperti manekin berjalan dibandingkan dokter. Nametag di dadanya bertuliskan sederet huruf kapital; LUKI.

“Bagaimana keadaanmu?” suaranya sama sekali tidak hangat. Pertanyaan untuk formalitas.

Aku menantang manik hijau di dalamnya. “Bagaimana keadaan saudaraku?” melihat kepalanya agak dimiringkan sedikit, aku melanjutkan. “Yang berambut pirang. Yang kecelakaan.”

Dokter berambut merah muda aneh itu meremas kepalan tangannya. Sedetik, wajahnya masam lalu kembali bersembunyi di balik topeng baik hatinya. Ia tersenyum lagi. Kaku. Andai bisa kupecahkan.

Luki—memanggilnya degan embel-embel dokter hanya formalitas yang menurutku tak diperlukan—menarik napasnya dalam. “Sebenarnya kami belum mengetahui pasti bagaimana kondisinya saat ini. Beberapa saat yang lalu, kondisinya mencapai titik paling parah.”

“Bagaimana keadaannya sekarang?” aku mendesis geram.

“Kondisinya mulai membaik. Tapi...” Luki memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jasnya yang sepanjang lutut. “Kami takut ia kehilangan suaranya.”

“Apa maksudmu?”

“Benturan keras di kepalanya merusak bagian otak yang mengatur sistem berbicara.” Luki menunjuk kepalanya. “Ia bisu.”

Aku melihat pandanganku seperti kaca yang dihantam pemukul baseball. Retak. Pecah. Hancur. Punggungku seperti di siram air dingin bersamaan dengan seseorang memasukkan bergalon-galon air panas ke dalam mulutku. Tanganku luar biasa dingin. Pendingin ruangan yang mendengung halus di atas pintu masuk terasa tak lagi menghembuskan angin dingin—rasanya seperti ditimbun salju dari Alaska.

“Astaga, kau tak apa?” tanya Luki kaget ketika melihat kepalaku menghantam bantal dengan ekspresi nol. “Seharusnya aku memberitahumu setelah kondisimu membaik.”

“Tidak,” gumamku. “Terima kasih sudah memberitahuku.”

Luki terdiam sebelum membalikkan badannya menuju pintu. Jas putihnya agak berkibar. “Kau boleh menjenguknya ketika kakimu sudah membaik.”

Sontak, aku melirik kakiku. Di gips, diperban berlapis-lapis. Seperti mati rasa. Dan aku sama sekali tidak memperdulikan tubuhku yang setengah hancur.

Dua malam setelahnya, aku beringsut turun dari kasur, menyeret kakiku yang terasa berat. Seperti menyeret batu. Tadi siang Luki memberitahuku kamar Rin; nomor 304, tidak jauh dari bangsalku berbaring; 308. Namun berjalan dengan kaki diperban dan menggantungkan keseimbanganku pada dua tongkat penyangga di ketiakku jarak yang hanya terpaut empat bangsal terasa seperti berjalan dari ujung koridor ke ujung koridor lainnya.

Aku berhenti di depan pintu berpapan 304. Sesaat, tanganku menggantung. Aku ragu. Siapkah aku? Siapkah aku melihat selang-selang yang melilit tubuh seorang Rin Kagamine, kembaranku yang biasanya tegar? Aku mendengus kemudian mengangguk mantap dan mendorong pintu di hadapanku.

Seorang gadis tengah berbaring di atas kasur. Dadanya naik turun—aku merasa darah kembali mengalir ke seluruh sudut tubuhku. Aku lega. Setidaknya, di dalam tubuh kaku itu, masih ada udara yang keluar dan masuk secara bergantian. Masih ada jiwa di antara nafasnya. Perlahan, aku menggesekkan sandal beludruku, mendekat ke arah ranjang dan mematung. Rin terlihat kacau. Kepalanya diperban sedemikian rupa sehingga terlintas dibenakku lebih baik melihat mumi daripada dia. Lehernya disangga. Napasnya tergantung pada tabung oksigen di samping ranjang. Di samping kepalanya, sebuah mesin mengeluarkan bunyi 'pip' yang terdengar dingin. Pip. Pip. Putus-putus.

Ragu, aku mengulurkan tanganku, mengelus surai-surai pirang di kepalanya. Halus, mengingatkanku pada jaring laba-laba. Mengikat.

Saat itu, aku berharap, seandainya semua ini hanya khayalan. Atau tiba-tiba Rin melompat turun dari kasur, melucuti perbannya dan berteriak riang bahwa ia hanya mengerjaiku.

Seandainya... andai-andaiku didengar Tuhan.

***

Figur seorang Rin Kagamine kembali memenuhi irisku. Bibirnya melengkung ke atas, tak mengerti melihatku yang tiba-tiba terdiam. Aku menggenggam tangannya, meremasnya lembut lalu menariknya. Kami berlari, menembus hujanan daun mapple. Kuning, merah, berkelebatan dengan indah.

Ingatanku kembali pada saat-saat ia menari diantara ribuan dedaunan yang melambai sedih kepada ranting pepohonan yang berdiri kaku. Saat ia bernyanyi, menghibur dedaunan yang kering. Kupikir, mungkin dedaunan mapple kini tengah bersenandung elegi. Malaikat mereka kehilangan harpanya dibawah guyuran hujan.

Kami berdiri, memakukan kaki kami di atas petak-petak heksagon, diantara dua pohon mapple yang menjulang menusuk langit dengan warna merah. Masing-masing ranting dari pohon tersebut melengkung, seakan membungkuk ke arah kami.

Dan dering telepon menghancurkan semuanya.

Aku merogoh sakuku, membuka flip telepon genggam kuningku. Aku menatap sederet nama; KAITO. Untuk apa si maniak es krim itu menelponku. Meminta traktir? Atau apa?

Moshi-moshi,” sapaku.

“Len?” aku tidak tahu kenapa, tapi suara Kaito terdengar agak... aneh. “Len, kau dimana?”

“Huh? Aku... di depan taman di depan rumah sakit.” Aku menatap sekeliling, kemudian memaku irisku pada iris azure. Rin menelengkan kepalanya ke kiri sedikit. “Ada apa?”

“Aku, Gakupo dan yang lain sedang berada di rumah sakit. Baru saja pihak rumah sakit menghubungi kami.”

“Menghubungi kalian? Memangnya ada urusan apa?”

Hening yang panjang, menggigit kesabaran Len sebelum Kaito menarik napas panjang dan berkata dengan lemas. “Rin...”

“Rin?”

“Meninggal.”

“Hah?”

“Rin meninggal.”

Aku mendengus. Lucu sekali. Rin berada di sampingku dan Kaito dengan bodohnya berkata bahwa Rin meninggal. “Cari lelucon yang lebih baik, Bakaito.” Lalu menutup sambungan dengan kasar.

Benarkah? Aku tiba-tiba bertanya pada diriku. Benarkah yang disampingku itu Rin yang asli? Benarkah? Bukan ilusi? Imaji fana dari Tuhan yang tengah tertawa seraya menarik-narik benangku? Aku semakin mempererat genggamanku. Ada yang hilang. Rasanya ada yang hilang.

Apa yang hilang?

Dan semuanya terasa lebih dingin, seolah yang melayang-layang di depanku bukan daun mapple, tapi butiran-butiran salju. Tangan Rin dingin, seolah aku menggenggam... udara? Untuk seribu kalinya, aku menoleh, memastikan Rin, kembaranku yang kusayangi, masih berdiri disana. Aku berharap ia masih menatap dunia dengan diamnya dan menyiksa dedaunan dengan kesunyian. Mataku rabun. Figur gadis bersurai sama denganku itu kabur. Tak jelas. Aku bisa melihat pohon mapple di belakangnya yang berdiri kokoh, menggelengkan kepalanya, mengasihaniku. Ya, aku bisa melihatnya tanpa harus bersusah payah melongokkan kepala dari balik pundak Rin. Sosok Rin terlihat transparan.

“Len...” bisiknya. Kali ini dengan bibir, bukan jemari. Suaranya terdengar ribuan kali lebih lembut dan lebih sedih. Ia bergetar. Bulir-bulir cairan hangat mengalir di pipinya yang sehalus boneka-boneka Eropa. “Len, terima kasih.”

“Rin? Rin! Rin!” teriakku kalap.

“Len... asal ada kau disisiku, aku tidak takut akan apapun.”

Aku menggapainya, menangkap partikel-partikel tubuh Rin yang perlahan menghilang. Aku mendekap bayangannya. Pertama hangat, namun lama-kelamaan aku seperti mendekap angin. Saat membuka mata, yang kulihat adalah tanganku yang melingkari udara.

Hampa.

Tak ada apapun di sana.

“Rin?” panggilku.

Tak ada jawaban. Hanya bunyi halus daun-daun merah yang diseret agin, menyapu petak heksagon di bawah kakiku.

Tepukan di pundakku membuatku melonjak kaget. Sambil berharap itu tangan Rin, aku berbalik untuk mendapati seorang pemuda bersurai biru tengah terengah-engah mengatur napasnya. Scarf yang senada dengan rambutnya melambai pada seorang pria berambut ungu panjang yang tengah berlari sebelum menghentikan langkahnya beberapa meter di belakang Kaito.

“Aku bukan tipe orang yang hobi menjadikan nyawa orang sebagai lawakan.” Kaito menatapku tajam. “Dan yang kukatakan beberapa menit lalu itu benar.”

Aku mengangguk kemudian tertawa miris. Perlahan, tawaku berubah menjadi isakan saat beberapa tetes air dari mataku menetes ke tanah.

“Aku tahu,” sahutku dengan suara sengau. “Aku tahu. Ia baru saja bermain denganku.”

Gakupo—pria berambut ungu panjang—mengernyit ke arahku. Namun, aku hiraukan. Aku berjalan menjauh, menapaki dedaunan mapple sembari bersenandung lirih. Tanganku kurentangkan lebar-lebar, berharap partikel-partikel Rin kembali, menyatu, menyangkut di lenganku hingga aku bisa mendekapnya.

“Hei, Rin,” bisikku pada udara, “Tahu tidak? Dedaunan ini sama denganku. Mereka kesepian. Katamu, asal aku ada disisimu, kau tidak akan takut pada apapun. Bagaimana denganku? Kau egois.”

Tak ada lagi yang menjawab atau menggerakkan jemarinya di depan hidungku, membentuk sepatah-dua patah kalimat. Namun aku tahu, ada yang tengah tersenyum disana. Di balik kamar nomor 304, yang jendelanya di penuhi daun-daun mapple berwarna merah dan kuning. Ia tersenyum lembut.

0 comments:

Post a Comment

GUNADARMA UNIVERSITY

GUNADARMA UNIVERSITY
Powered by Blogger.

visitors

About Me

Hai. I am Abdul Latief. Jangan pernah menyesal setelah Anda mengungkapkan suatu perasaan. Karena jika demikian, Anda sama saja menyesali kebenaran.

Labels

Popular Posts